//
you're reading...

perspective

Antipluralisme dan Sinisme Rocket Rockers di Bali

Tulisan ini bukan tentang JIL atau Anti JIL. Tetapi tulisan ini adalah pilihan untuk hidup di tengah kebhinekaan.

Sinisme ini berawal dari Surat Terbuka untuk Rocket Rockers yang ditulis oleh Rudolh Dethu, mantan manajer band sejuta umat, Superman is Dead. Surat terbuka ini kemudian mendapat tanggapan dari manajer band yang bersangkutan. Balasan surat terbuka bisa dibaca sini. Ucay , sang biduan sudah menuliskan tanggapan atas tulisan Dethu dan bisa dibaca di blognya.

Ringkas tulisan Dethu, dia gelisah karena tulisan, Pluralisme? Injak Saja! yang menjadi jargon gerakan yang diikuti oleh Ucay, sag vokalis. Mereka yang pro keberagaman resah karena tulisan itu berarti yang berbeda dari golongannya, boleh diinjak. Apalagi, jargon memiliki makna yang amat ofensif, agresif dan menyerang kelompok yang berbeda pandangan.

Dalam perjalanannnya, ada semacam klarifikasi bahwa pluralisme yang dimaksud bukan keberagaman. Tetapi pluralisme versi Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan semua agama adalah sama. Si biduan sendiri, mengakui, dia amat toleran dengan pemeluk agama lain, dalam masalah bisnis. Well, ternyata toleransi bisa muncul ketika masuk urusan perut.

Eko Endarmoko, kutip Dethu, penyusun Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia menyatakan, “Buat saya, ‘pluralitas’ itu fakta, yaitu keberagaman, kebinekaan. Sedang ‘pluralisme’ itu sikap mengakui pluralitas. Saya kira banyak orang rada keliru—termasuk MUI ketika menyatakan bahwa pluralisme menganggap semua agama benar. Itu, kita tahu, namanya monisme.”

Intinya kurang lebih seperti itulah. Kebetulan, akhir bulan ini Rocket Rockers diundang menjadi bintang tamu BEM Unud dalam acara puncak Dies Natalis Unud yang ke-50. Rocket Rockers, termasuk vokalis tentu saja akan menerima uang dari para kafir, berjingkrak-jingkrak dan menghibur para kafir. Lagi-lagi, toleransi muncul ketika masuk urusan perut.

Perdebatan ini menjadi menarik karena, Rocket Rockers sendiri melepaskan tanggung jawab terhadap aktivitas sang vokalis. Artinya, secara tegas dia menarik jarak: apa yang dilakukan oleh sang vokalis menjadi tanggung jawab pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan institusi. Ini adalah model pengelakan yang pertama. Mereka jujur terkesan naif dan memilih cari aman.

Kita tentu tidak boleh lupa, musik, musisi dan karyanya (album dan lagu) tidak berada di ruang hampa. Mereka berkelindan dan saling mengikat bahkan ketika sang musisi sudah turun dari panggung. Mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan, menjadi identitas dan mempengaruhi satu sama lain. Itulah kenapa, model ngeles ala (manajer) Rocket Rockers patut dipertanyakan.

Identitas yang selalu melekat, contoh saja Ucay Rocket Rockers, inilah yang seharusnya tidak boleh dilupakan seorang pesohor. Apalagi kegiatan yang dilakukan di depan publik, disorot media dan mendapat publikasi seperti yang dilakukan sang vokalis di Indonesia Tanpa JIL-nya itu. Melekatnya identitas personal dan institusi kita juga rasakan saat ngomongi Ariel dengan Peterpan (dulu) atau NOAH (sekarang), Kaka dan Bimbim dengan Slank-nya, Jerinx dengan SID-nya, Arian dengan Seringai-nya dan sederet pesohor lain yang menjadi identik dengan kelompoknya. Sebuah konsekuensi yang seharusnya disadari sejak dini.

Lihat video ini. Apakah strategi ngeles ala Rocket Rockers begitu saja bisa kita percaya sementara nama band selalu dilekatkan di belakang nama sang vokalis. Pertanyaan sederhana, pernahkah Rocket Rocker, secara institusi memprotes penayangan video ini? Bukankah ini bisa saja disebut klaim secara sepihak, jika mereka mengatakan, “Kami nggak ada hubungannya dengan gerakan itu.” Itulah yang alpa diingat dari jawaban manajer Rocket Rockers.

Catatan kami: mereka pesohor yang namanya bisa dijual dan laku di depan publik. Pesohor, apalagi dengan jutaan penggemar, tentu saja punya pengaruh kuat untuk memberi pengaruh kepada fans mereka. Karena kami percaya Rocket Rockers bukan band kacangan dan penggemar kacangan pula, maka keprihatinan ini kami sampaikan.

Penggemar, atau kami  sebagai pendengar tidak hanya peduli pada karya tetapi juga pada attitude yang dilakukan oleh (personel) band. Aktivitas di luar musik penting bagi kami yang menggilai musisi. Karena teladan positif menjadi penting bagi semua pesohor. Aktivitas mereka akan mudah diikuti oleh mereka yang mengidolakan sang pesohor. Kecuali, Rocket Rockers menganggap penggemar hanya obyek mati. Obyek yang hanya menjadi sasaran penjualan karya musisi tanpa peduli attitude dan aktivitas di luar itu.

Kebhinekaan yang Kita Punya

Baiklah, pada akhirnya, kami juga akan menyinggung bagaimana kami bersikap kepada Indonesia Tanpa JIL, gerakan yang diikuti oleh Ucay. Tentu saja kami tidak akan bersikap dalam perspektif agama. Biarlah itu urusan mereka, Jaringan Islam Liberal dengan penentangnya, kaum yang saling klaim tafsir paling benar terhadap kitab suci. Kami menarik jarak soal itu.

Kami tidak memiliki masalah dengan perbedaan karena kami sadar kita (ya kami dan kalian) hidup Indonesia, di tengah kebudayaan, suku dan agama yang berbeda. Pluralisme atau pluralitas (persetan dengan istilah yang mereka gunakan), sikap menghargai perbedaan inilah yang seharusnya kita junjung tinggi. Kami menghargai setiap orang yang berekspresi melalui organisasi sesuai keyakinan masing-masing. Kami menghormati kebebasan berbicara dan berekspresi. Bukankah ini hakikat manusia? Bebas tetapi bertanggung jawab.

Namun, semua itu menjadi masalah bagi kami, ketika kebebasan berekspresi sudah menjadi agresif sekaligus represif dengan menyerang dan menistakan orang yang berbeda keyakinan. Pada konteks inilah, organisasi yang diikuti oleh Ucay Rocket Rockers ingin kami kritik. Sederhana saja, salah satu jargon yang dipakai, “Pluralisme? Injak Saja!” menunjukkan kepada kita bagaimana orang yang tidak sealiran, sepaham, atau sekeyakinan harus diinjak. Apakah sikap seperti ini yang disebut sebagai sikap toleran?

Apakah kemudian orang yang berbeda pandangan, lantas dicap kafir dan sesat sehingga harus dilawan dan dimusnahkan? Injak saja, bukankah maknanya membunuh, seperti layaknya kita menginjak kecoak. Duh, kami tidak habis mengerti mengapa orang yang sedang memperjuangkan nilai agama bisa seberingas itu.

Kritik kami yang lain, gerakan Indonesia Tanpa JIL didukung oleh ormas-ormas yang selama ini anti keberagaman, intoleransi dan kerap memakai kekerasan untuk mencapai tujuan. Gamblang saja deh. Front Pembela Islam. Sangat mudah menemukan bagaimana gambar Rizieq Shihab ditemukan dalam setiap aksi gerakan ini. Kami dengan jujur berkata, sang vokalis menjadi bagian dari kelompok yang toleran terhadap kekerasan.

Tentang Jaringan Islam Liberal, sekali lagi kami menarik jarak dalam perdebatan agama. Jadikan saja itu perdebatan diantara kalian. Yang kami tahu, JIL lebih berpihak pada mereka yang termarjinalkan, termasuk kaum lesbian, biseks, dan transgender. Karena kerap berpihak pada yang lemah, kami kemudian lebih bersimpati kepada mereka. Mereka menampilkan wajah Muslim yang teduh, betapapun kerap dituduh sesat oleh Indonesia Tanpa JIL.

Bukan berarti kami membela yang sesat (jika itu JIL sesat dalam versi kalian). Tetapi berdialektika tidak seharusnya menggunakan parang atau takbir yang diteriakkan penuh amarah dan kebencian. Sederhana. Teramat sederhana. Tunjukkan kepada kami, bahwa perdebatan itu beradab dan mengesampingkan cara-cara biadab seperti yang kerap kalian tunjukkan kepada kita.

Bali dan Indahnya Pluralisme

Kenapa kami kemudian lantang bersuara? Tentu saja karena Rocket Rockers akan manggung di Bali. Mereka akan menikmati duit dari mereka yang mayoritas “tidak bernaung dalam hukum Allah”. Tetapi kami menegaskan, Bali adalah wilayah yang terbuka. Siapa saja bebas datang ke sini dengan bertanggung jawab. Toleransi adalah sikap diri.

Kami akui, perlakuan rasis terhadap pendatang masih kerap terjadi. Tragedi Bom Bali telah meluluhlantakkan denyut nadi ekonomi Bali. Ini menyisakan trauma mendalam bagi semua pelaku ekonomi di Bali. Hal ini sangat kami sadari sebagai bagian dari generasi muda.

Apalagi, pelaku yang tertangkap dan dihukum mati berasal dari suku Jawa dan Islam. Kami tidak mengatakan, semua orang Jawa dan Islam jahat. Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi, sentimen SARA ini muncul dan menjadi nyata seusai tragedi terjadi bahkan hingga jauh-jauh hari. Apalagi kemudian ada gerakan Ajeg Bali yang membuat sentimen etnis terhadap  pendatang dan berbau rasis menguat.

Tentu saja kami menolak perlakuan rasis ini. Tidak ada tempat bagi orang yang menghembuskan sentimen negatif terhadap SARA di republik ini. Syukurnya, hingga hari ini Bali tetap harmoni di tengah berbagai perbedaan. Apakah sentimen rasis ini hilang begitu saja? Tentu tidak. Tetapi, sentimen ini pelan-pelan kami kikis dengan memunculkan bagaimana umat Hindu dan umat Islam bisa hidup dalam toleransi. Bagaimana orang Bali dan orang Jawa bisa tetap damai meskipun ada perbedaan yang nyata.

Kami tidak ingin harmoni ini diusik dengan berbagai gerakan yang sifatnya ofensif. Apalagi, oleh orang-orang yang dengan mudah mencap orang lain kafir atau sesat hanya karena perbedaan keyakinan. Di Bali, masih banyak pribumi, baik Islam, Hindu, Bali atau Jawa yang menampilkan wajah agama dengan damai dan teduh. Tidak beringas dan menakutkan seperti yang ormas-ormas Islam pendukung Indonesia Tanpa JIL tunjukkan.

Bagi kami, pernyataan ini jelas dan gamblang. Tidak usahlah kita terjebak pada pemaknaan kata, apakah pluralism atau pluaritas namun nihil implementasi di lapangan. Kami harap kita tidak terjebak dengan mulut manis tetapi tangan berlumur darah.  Bagi kami, itu adalah omong kosong belaka. Penghormataan terhadap kebhinekaan suku, agama, ras dan keyakinan harus mendapat tempat terhormat di republik. Tabik.

gdubrak

awas licin, banyak ide mengalir

More Posts

baca artikel lainnya:

Merayakan Kelulusan
Kenapa Anak Muda Tidak Boleh Anti Politik
  • Tatang

    Mohon diralat yang memakai kaos Pluralisme? Injak Saja! itu bukan Ucay.
    Selengkapnya http://alismymiddle.name/blog/untitled

  • Pingback: Antipluralisme dan Sinisme Rocket Rockers di Bali « Agus Lenyot()

  • Rudolf Dethu

    Kerabat Puspawarna,

    Isi pikiran saya sudah dominan termuntahkan di tulisan di atas makanya saya sisipkan saja respons saya terhadap argumen terakhir Ucay http://alismymiddle.name/blog/untitled sebagai pelengkap:

    1. Saya mohon maaf yang setulusnya kepada personel Rocket Rockers yang terkena imbas tulisan berseri dari saya. Jabat erat dan peluk persahabatan untuk kalian. (Perspektif saya yang lainnya tentang isu Rocket Rockers ini sudah terwakili oleh tulisan di atas)

    2. Saya tidak pernah melarang orang untuk percaya, sangat percaya, tidak percaya pada suatu hal. Yang saya tolak adalah wilayah saya, kami, kebinekaan, direcoki kaum non bineka. Punk cingkrang ngapain jingkrak-jingkrak di depan punk puspawarna? Itu persoalannya.

    3. Walau saya tidak sepenuhnya percaya* tentang nihilnya hubungan Ucay dengan Islam garis keras, saya hargai, saya hormati pernyataannya. Paling tidak pernyataan tentang ketidakdekatannya dengan—salah satunya—FPI telah dibaca oleh orang banyak. Ke depannya pernyataan tersebut harus bisa dipertanggungjawabkan oleh Ucay.
    *Sulit bagi saya menelan mentah-mentah pernyataan tersebut karena ya memang kegiatan organisasi yang diikuti Ucay sangat erat keterkaitannya dengan kaum garis keras. Plus orang yang dianggap petinggi di gerakannya salah satunya adalah @hafidz_ary yang pernyataannya kerap bertolak belakang dengan penghargaan keberagaman semisal: “Yang menolak Islamisasi keluar saja dari negeri ini”, juga ia pendukung diberlakukannya Syari’at Islam (utopia khilafah?), serta kerap menistakan Bhinneka Tunggal Ika (kalau panglimanya saja begitu bagaimana prajuritnya?). Well, kalau cuman selebrasi sesuatu di rumah orang Nasrani mah belum tentu berarti menghargai keberagaman. Baca saja berondongan tweet dari sang petinggi yang melulu menyudutkan Nasrani. Kenapa saya dan kawan-kawan bereaksi keras dengan yang beginian? Bali sudah berulangkali dicederai oleh kaum garis keras. Bali trauma. Muslim teduh di Bali juga trauma. Nah, jika ada gejala kaum sejenis ini hendak memasuki Bali ya Bali harus mengantisipasi dan bersiap agar tidak lagi kecolongan. Tidak perlu diperpanjang, pakai saja logika benderang dan terapkan hubungan kausal (contoh: simak baik-baik tweet-tweet dari Ucay dan hafidz_ary lalu kaitkan dengan foto-foto gerakan tersebut), pasti bisa dipahami :)))

    4. Saya harap acara konser yang nanti diadakan di Unud tetap berjalan dan berlangsung damai. Jangan ada kekerasan. Jika tidak setuju tidak usah datang, jika setuju silakan datang.

    5. Secara pribadi, saya menghargai Ucay sebagai sosok baik—dan nuhun pisan atas segala kontribusi positif di masa silam. Tapi kini secara ideologi, Ucay bukan lagi sosok seperti yang saya kenal dulu. Sulit bagi saya untuk tetap objektif. Maafkan, Cay, gue manusia biasa. Lu jangan lupa, Cay, gue ini orang Bali yang kerap dilukai oleh kawanan yang banyak beredar di sekitar lu. Reaksi gue pasti jadi nyap-nyap dan defensif. Apalagi kaos yang belakangan lu sering banggakan yang Tragedi 11 September itu. Itu persoalan tewasnya banyak manusia tak berdosa (dan dua kali terjadi di Bali). Orang Bali ngeri dengan hal begituan. Bukan soal agama. Itu soal pembunuhan. Susah buat gue untuk tidak mencap lu punk cingkrang.

    Cukup. Gunakan akal sehat. Jangan ada kekerasan. Jaga keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika. Merdeka menjadi bianglala.

    RUDOLF DETHU

  • Cinta Damai

    Sulit untuk mengatakan Indonesia Tanpa JIL nggak ada hubungannya sama FPI.
    Kita tahu sendiri, perseteruan dua kubu ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tetapi baru memuncak saat petinggi DPI dikepung di Kalimantan. Setelah itu muncullah gerakan Indonesia Tanpa FPI di Bundaran HI tanggal 14 Februari lalu. Seminggu kemudian, gerakan Indonesia Tanpa JIL muncul.

    Lalu kalo kemudian pokalis Rocket Rockers mengelak tidak pernah bertemu dengan petinggi FPI. Tidak pernah bertemu bukan bukan berarti tidak sepakat dengan ideologi dan cara yang mereka pakai kan?

    Ah sudahlah, mereka yang cinta kebhinekaan selayaknya mawas diri sejak sekarang. Jangan sampai keragaman yang kita dijunjung tinggi, diinjak-injak oleh segelintir orang yang meneriakkan takbir dengan amarah. Pret!

  • Pandu Arsana

    Itu lagian kalo ITJ emang mau nge-binasa-in JIL kenapa ngga di infiltrasi aja sih ? Susupin orang, pahami mendalam skema kerja dll, lalu matikan perlahan. As simple as f*ck. Nggak usah jadi ribet sana-sini sampe bikin takut pemeluk agama lain. Cheers !

  • rendi

    malam bli2 semua, maaf kebetulan saya orang (pulau) jawa (sunda tepatnya), kebetulan saya Islam dan kebetulan lg nih saya pendukung #indonesiatanpaJIL dalam hati , sorry tp mnurut saya, stigma negatif yg selama ini bli-bli skalian trhadap umat muslim, ataupun khusus nya garis keras nya blm terbukti kebenerannya, kita jangan menutup mata 2 kali bom bali bukan blm tentu itu kerjaan amerika dan antek2nya, maklum saya penggemar teori konspirasi, apalagi peristiwa 11 september, banyak skali data2 yg menyangkal itu BUKAN permainan amerika, belum lagi yg menyatakan usama bin laden adalah didikan CIA. ahh sudahlah, itu semua mungkin cuma teori.

    mungkin saya mw bercerita dlu ttg diri saya, saya adalah pemuda (ya kalo msh bisa dikatakan pemuda) biasa2 saja, yg msh suka menghabiskan suatu malam bersama teman2 di suatu cafe di kota bandung sambil menengak minuman alkohol, saya sadar itu salah di agama saya, tp emg dasar nya aja bandel, suatu ketika saya mengenal dgn yg disebut Jaringan Islam Liberal dgn jargon nya “dengan nama Allah, tuhan pengasih, tuhan penyayang, tuhan SEGALA AGAMA” *what the fuck???? sy sebagai muslim blangsak aja kesinggung,, apa ada dsini yg bertuhan kan Yesus? Budha? Wisnu?? emang nya gk tersinggung bro?? sy gk usah lah ya cerita ttg “kejanggalan-kejanggalan” lain dr @ulil cs, tp inti nya bro #indonesiatanpaJIL itu lahir karena adanya paham2 yg disusupkan JIL untuk merusak kesucian agama kami, ini tidak ada hubungan nya dgn FPI yg notabene sy jg takut dipentung klo lg minum, yg pasti FPI SUDAH PASTI #antiJIL, tp #antiJIL BELUM TENTU FPI, jangan sama ratakan kami .

    masalah pluralisme or pluralitas or whatever arti kata-kata itu intinya kami tidak ingin ada pencampur adukan agama, byar Islam dgn Islamnya, katholik dgn katholik nya, protestan dgn protestannya budha dgn budha nya, hindu dgn hindu nya, atheis dgn atheisnya. masing2 berhak menyatakan yg paling benar (dalam hati).

    cheers

    rendi
    *bukan pemuda baik2, bukan fans rocket rockers, bukan penggemar SID, dan bukan penulis handal

    • Rudolf Dethu

      Rendi, jabat erat untuk anda.

      Lemme get this straight, neat, no ice:

      1. Perkara anda penggemar Teori Konspirasi, bahwa malapetaka itu adalah kongkalikong CIA, bahwa vonis yang selama ini diamini publik adalah salah besar, itu silakan anda goreng sendiri. Be my guest. Tapi bukan itu persoalannya. Fokus saya, kami, para korban kebiadaban, adalah bahwa kejadian tersebut adalah tragedi pembunuhan, mirip genosida, dan perbuatan maha jahat. Siapa pun dalang di balik pembantaian itu adalah sosok amat keji, nihil prikemanusiaan. Ndak urusan konspirasi atau agama. Kami trauma dengan hal-hal sejenis demikian. Jangan dipakai main-main isu tersebut. Anda sih gampang aja ngomong ini perbuatan CIA-lah, konspirasi Amerikalah, tapi anda tak pernah merasakan bagaimana wilayah anda luluh lantak dan saudara-saudara anda yang tak mengerti apa-apa menjadi korban sia-sia. Saya berada sangat dekat TKP ketika bom (pertama, 2003) meledak. Saya melihat mayat-mayat bergelimpangan, orang-orang berlain berlumuran darah. Ndak urusan CIA atau agama saat itu. Yang ada cuma orang-orang ketakutan, menjerit, menangis. (Hingga hari ini pun jika saya mendengar dentuman keras di sekitar saya, saya langsung gemetar.) Nah, Rendi, empati itu yang harusnya ditunjukkan.

      2. Sekali lagi, ini bukan urusan agama, ketika saya menyebut orang macam Hafidz Ary atau organisasi macam FPI, bukan isu agamanya yang saya sasar tapi benar tidaknya klaim menyebut diri menghargai keberagaman. Saya, kami, tidak pernah repot dengan pilihan hidup anda, mau beragama, mau kagak, mau kanan, mau kiri, terserah. Tapi jangan mengaku menghargai keberagaman jika ternyata tidak. “Pluralisme? Injak Saja!”, apa itu indikasi menghargai pilihan hidup orang lain? Kalau pun ternyata tidak menghargai keberagaman ya gak apa-apa juga, tapi jangan merecoki wilayah kami: ngapain punk cingkrang jingkrak-jingkrak di skena punk puspawarna?

      3. Mohon lebih bijaksana memakai kata “kami”, bung Rendi. Saya berbicara bukan atas nama agama tertentu, ini tentang keberagaman. Well, jika pun “kami” itu maknanya Muslim, kawan-kawan di kelompok saya sebagian adalah muslim (teduh). Hehe.

      4. Ini saran pribadi: kalau FPI menyerang anda saat anda bersenang-senang harusnya dilawan. Mereka bukan aparat keamanan. Mereka sipil. Tuhan juga tidak pernah menurunkan mereka dari surga untuk membasmi kemaksiatan di bumi. Coba suruh FPI tunjukkan surat tugasnya dari Tuhan :)))

      Bersulang,
      RUDOLF DETHU

      • rendi

        ijinkan sy untuk kembali menanggapi bli dethu :)
        1. untuk masalah kejadian bom baik di bali atw dmanapun tempat nya saya pun merasakan trauma tersendiri, dlu bom meledak di bandung, saya lupa tahun brpa nya, kbtulan di jalan yg slalu saya lewati. hanya yg saya sesalkan stigma yg di cap kan kepada muslim jawa sbg aliran garis keras, dan anak2 #indonesiatanpajil pun kena imbas nya, we’re moslem not terrorist.

        2. Klo masalah baju “pluralisme, injak saja!” (mohon maaf bli, apakah bli sbelum nya sudah meminta maaf kpada ucay, klo yg pake baju trnyata bukan ucay hehehe) saya memandang ini suatu miskom dan salah persepsi, terlepas mana kata yg #indonesiatanpajil maksud atw pluralisme yg bli maksud, sudah dijelaskan sebelum nya (atau dimana2) pluralisme yg hendak (setidaknya oleh yg pake kaos) injak, yaitu pencampuran agama, itu yg kami tentang. apabila masalah mengenai statement hafidz ary yg cenderung keras, itu mungkin bli harus kembali membuat surat terbuka kepada dia hahaha :D mengenai punk cinkrank dan punk puspawarna, sy kurang mengerti perbedaan antara kedua itu, hanya saja saya minta jangan membawa hal sensitif ini ke scene musik (klo itu mksd nya). oiya skali2nya sy nonton SID manggung ktika sy mengantar gebetan utk ngeMC acara tersebut (ini mah curhat aja hehehe)

        3. masalah kata “kami” yg saya gunakan itu merujuk kami sebagai #indonesiatanpaJIL bukan sbg muslim, krena #indonesiatanpajil terbuka utk luar muslim, umat katholik pun dibikin gerah dengan adanya liberalisme ataupun pluralisme mnurut JIL, saya mengutip dari @KatolikMenjawab “Semua agama TIDAK SAMA dan tidak perlu memaksakan diri menjadi sama”

        4. mengenai penggerebekan oleh FPI sy blm pernah mengalami, tp saya mengalami penggerebekan oleh polisi (itu jelas ada surat ijin, we cant do anything about it hehehe pipis di semak2 deh) tp jujur nya, apabil sy sedang menikmati sebotol bir dingin, lalu @ulil atau @gunturromli mendatangi meja sy sembari berkata “bir itu halal asalkan diminum untuk menghangatkan tubuh” mudah2an disekitar sy ada sebotol jackD, sy akan minum sbanyak mungkin agar sy cukup mabok untuk memberanikan diri ngebotol kepala ulil atw guntur romlah hehehe. maybe its to much, gw emang begaJULan tp ngga begaJILan hehehe

        cheers!
        ps: oiya untuk intermezo aja, sebelum nya saya menyebutkan diri saya pendukung #indonesiatanpajil dalam hati, krena skalipun sy belum pernah bertemu muka dengan salah satu pentolan nya, tidak pernah ikut dalam kegiatan fisiknya, klo pun dgn Ucay sy sering ketemu, tp gk kenal dan tidak lantas sok kenal krena sama2 mendukung #indonesiatanpajil (gengsi bro!!!)

        • Rudolf Dethu

          Tidak pernah—TIDAK PERNAH—sekali pun saya menyebut Islam itu teroris (itu artinya sama dengan memvonis Muslim teduh saudara-saudara saya di Bali (sepupu saya juga Muslim) sebagai teroris juga toh?).

          Mengenai kaos itu kan saya memang sejak awal tak pernah bilang bahwa kaos itu dipakai Ucay? Saya sejatinya males menjawab karena berarti orang-orang itu tidak baca. Persis di atas, ndak pernah sekali pun saya bilang bahwa kaosnya dipakai Ucay. Hehe. Saya hanya menerapkan hubungan kausal yang finalnya berkesimpulan bahwa gerakan ini berpotensi mencederai keberagaman. Silakan eksis, itu pilihan, tapi jangan merecoki Bali. Segitu saja.

          Wilayah yang saya akrabi adalah punk rock. Anti keberagaman masuk (terutama ke Bali) lewat musik ya harus diwaspadai. Rendi, ini bukan urusan agama, jangan melulu ditarik ke agama. Please, bro. Beneran capek digeser ke agama muluk.

          Sudah, beres, yang penting kita intinya sama: menghargai keberagaman :)
          Bersulang -RD

          • rendi

            iyah bli, kan sy jg jg bilang “stigma yg dicapkan” buka yg bli ucapkan. berhubungan dgn hubungan kausal yg finalitasnya berkesimpulan gerakan #indonesiatanpajil berpotensi mencederai keberagaman, sy kurang setuju akan hal itu, karena gerakan itu sgt terbuka bagi agama luar Islam, dan maaf sy harus kembali ke urusan agama, krena JIL sendiri mengatasnamakan “Islam Liberal” ada unsur agama nya dsitu, maaf ya bli hehehe.

            Akhir kata, ya kita sama2 menghargai keberagaman, dan jg menjauhi “persamaan”, jabat erat buat bli dethu dan sodara2 di bali. cheers :)

          • Adi

            Siapa yang membuat stigma seperti itu? Siapa yang mengelu2kan para terroris sebagai pahlawan? ane harap sih biar d bilang #indonesiatanpajil ga ada “hubungan” sama FPI, ya coba dong gerakan ini sekali2 kritisi kebijakan FPI :) jangan hanya anti sepilis (kalau ane ga salah ya) tapi coba juga anti radikalis dong :)

          • rendi

            udah dijawab di atas yah.. :)

      • Sudiyas Sayidus

        Sebenernya mah begini…. ini pan masalahnye si JIL itu make nama ‘Islam’ sama kayak FPI make kata ‘Islam’ intinya mah sebenernya sama aja…. Ngejual nama ‘Islam’ Intinya mah 2-2nya sama-sama ngehek…. Jadi stop perdebatan tentang 2 Hal itu, Cuekin aja… perkaya diri dengan baca…. Sama-sama berpelukan tanpa ada nama Agama dalam bersama-sama. Karena apa? Karena Beragama atawa tak Beragama itu Bisnis Personal.

        Itu saja dari saya.

    • Adi

      Jika memang apa yang anda yakini itu sebagai teori konspirasi, lantas mengapa FPI, Abu Bakar Ba’asyir dkk malah menjadikan para pelaku teror bom macam Al Qaeda, Imam Samudra, dll sebagai pahlawan? padahal menurut teori konspirasi anda peristiwa2 itu merupakan rekayasa?
      harusnya kalau anda kritis anda harus mengkritisi langkah FPI,dkk, tersebut, bukan malah seolah2 sering membela mereka, yang suka ane liat dari para sesepuh ITJ

      • rendi

        mungkin hal itu anda tanyakan kepada FPI yah, sy pribadi bukan anggota FPI.. mengenai statement sesepuh ITJ yg membela FPI, ya anda tanyakan saja pada mereka, sy sudah tuliskan sy pendukung dalam hati, bertemu dengan pentolan ITJ bandung pun belum pernah. yang saya dukung dsini adalah penolakan ITJ terhadap JIL dan fatwa2 yg sy anggap sesat.
        is that clear enough for you? Cheers :)

  • dydy

    boleh tanya? kalau yg ada di foto itu bukan seorang Ucay Rocket Rockers apa akan seperti ini? kalau di foto itu hanya @gatse8 tanpa seorang ucay apa kakak-kakak akan beraksi seperti ini? cuma nanya ya.. kalau tidak berarti ini ga lebih dari … mmpphh ah sudahlah sy harus husnuzon :p .. mari cari tahu sebelum judge begitu saja, lihat apa arti pluralisme dan pluraritas dalam agama islam baru pada komentar ya :) buat saya debat panjang lebar disini ga bakal selesai kl kita ga mau cari tahu. sy hidup dengan keluarga yg berbeda2 agama, dan sy seorang muslimah :)

    • Rudolf Dethu

      Non Dydy, anda sudah baca dari awal atau belum? Jangan komentar dulu sebelum membaca lengkap. Biar gak mbulet :)

      • dydy

        sy tanya oom deh, kl yg di foto itu bukan/tanpa Ucay anda/yg lain akan sereaktif ini atau tidak? sy ngikutin kok dr awal tenang aja :) ini pertanyaan singkat silahkan di jawab donks kakaks :D terserah mau mikir ini OOT tp ini pertanyaan dasar dr semua kericuhan yg ada d twitter maupun blog2 :) jawab aja oom :)

        • Rudolf Dethu

          Maaf saya tidak mengerti dengan pertanyaan anda :)

          Maksud anda saya punya masalah pribadi dengan Ucay gitzu ya? Beginski, nona Dydy, nothing personal, it’s all professional. Saya bermain di wilayah punk rock. Ucay juga. Ada yang tidak beres di wilayah tersebut (terutama di Bali, zona yang saya bahkan kenal betul), saya ya yang sudah bangkotan berkelana di sekitar situ ya tergerak dong ikut menata apa-apa yang kira-kira akan berantakan. Sense of belonging saya terusik :)

  • punk puspawarna

    Terus menerus dikatakan bahwa om dethu mempermasalahkan ucay yang menggunakan baju itj.. padahal dri surat terbuka itu sudah sgt jelas d katakan om dethu bahwa bukan ucay memang yg memakai baju.
    Gambar tersebut kan dijadikan jembatan kesimpulan, salah satu poin kerangka berpikir, bahwa itj adalah gerakan yg anda tahu sendiri seperti apa, sudah dijelaskan dgn jelas oleh om dethu dan artikel gdubrak di atas.
    Bnyak yg bilang itj ingin menyelamatkan islam, dengan cara memberikan bom buku kepada ulil? Dengan cara menelpon dengan ancaman pembunuhan pada keluarga guntur romli? Dengan memberikan surat kaleng berisi ancaman pada gusmus?
    Cara vandalis seperti itu jelas saja mengantarkan kita berpikir bahwa itj itu gerakan Intoleran dan tidak menghargai perbedaan. Mengucapkan selamat hari raya kepada umat lain iman dibilang haram ko, liat saja hafidz ary. Darimana rasa toleransinya?
    makanya sampai saat ini saya lebih memilih mendukung teman teman islam yg toleran, teduh, dan bertanggung jawab.
    bukan islam munafik yg menafikkan amerika tpi ttep menggunakan twitter, iphone, windows, mac, google, dsb. Cari saja yg dibuat arab.

    • rendi

      ada bukti klo bom buku dr ITJ? (bahkan itj pun blm terbentuk saat itu), ada bukti itj yg neror guntur romlah? ada bukti itj yg ngasih surat kaleng kpd gusmus?
      thx!

      • punk puspawarna

        Embrio itj saya rasa, mau itj atau engga yg psti tindakannya udh menebar teror.
        Kenapa sosok2 seperti mereka malah yg anda perlu waspadai?
        Hrusnya sikap sikap toleran sperti mereka yg dijadikan contoh nyata.
        Bukan pimpinan itj yg menistakan yg memiliki ideologi berbeda.
        Anda takut agama anda dinistakan oleh mereka? Justru dgn tindakan sok2an defensif itj lah semakin membentuk citra negatif di mata masyarakat.
        Anda bilang mendukung itj hnya dalam hati?
        tidak perlu ditutupi jika anda mendukung itj tidak hanya dgn hati.
        Atau anda memang sudah tertular sikap munafik pemimpin anda?
        terima kasih.

  • Pingback: Pluralitas dan Pluralisme dari Hongkong « RUDOLF DETHU()

  • Pingback: Merdeka Menjadi Bianglala « RUDOLF DETHU()

  • Pingback: Surat Terbuka untuk Rocket Rockers « RUDOLF DETHU()

  • Pingback: Sesat dan Kafir Harus Bersatu. (Atau Mencret Menjadi Pengecut Seumur Hidup.) « RUDOLF DETHU()

starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak