//
you're reading...

event

Biografi Pembicara ‘Bali Emerging Writers Festival 2012′

Bali Emerging Writers Festival

Nah, kamu bingung mau curhat weekand ini sama siapa? mari berduyun-duyun datang ke Serambi Art Antida di Waribang buat ketemu sama orang-orang kece ;) di acara Bali Emerging Writers Festival. Kali aja dapat inspirasi atau bisa juga dapat jodoh.. #eaaa…. yang penasaran siapa aja pembicara di acara seru ini? nih… tim gdubrak bocorin sebocor-bocornya x)

 

Putu Hendra Brawijaya Putra a.k.a. Saylow Alrite, Netizen  asli Tanahampo, Manggis, Karangasem ini sejak 2003 berprofesi sebagai Graphic & Web Designer. Pria lajang kurus ini juga sibuk menjadi salah satu admin @balebengong (www.balebengong.net) sebuah media jurnalisme warga yang di prakarsai oleh komunitas Bali Blogger Community. Ia juga mendapat kepercayaan untuk menjadi manager dari Dialog Dini Hari, sebuah band indie beraliran Folks Blues.

 

Saut Poltak Tambunan, lahir di Balige 28 Agustus 1952, mulai menulis pada 1973 dan sejak itu telah mencipta ratusan cerita pendek yang dimuat di berbagai media. Ia telah menerbitkan 4 kumpulan cerpen: Rinai Cinta Seorang Sahabat (1983), Lanteung (2004), Jangan Pergi, Jonggi (200) serta Sengkarut Meja Makan (2011). Juga  menulis puisi, novel, naskah drama, skenario film. Sekitar 40 buku telah lahir dari tangannya. Sebagian novelnya sukses diangkat ke layar lebar film dan sinetron. Kini aktif menyelenggarakan workshop penulisan kreatif.

 

Ni Made Frischa Aswarini, lahir di Denpasar 17 Oktober 1991. Aktif di Komunitas Sahaja, sebuah kelompok studi sastra dan penulisan kreatif di Bali. Juara terbaik 2 lomba penulisan puisi South to South Film Festival nasional, sempat membaca puisi di hadapan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Pembaca puisi terbaik pada Poetry Slam Utan Kayu International Literary Biennale 2009. Ia juga pernah membaca puisi pada puncak acara Muda Creativity 3rd Anniversary (Kompas-Gramedia Group) di Istora Senayan Jakarta (2010) dan sejumlah kegiatan kesenian lainnya. Puisinya dimuat Bali Post, Pikiran Rakyat, Kompas, Jurnal Sundih, dan Koran Tempo. Esainya pernah dimuat di Jurnal Akar, Radar Bali, dan Bali Post.

 

Cok Sawitri adalah penulis kelahiran Karangasem ini di kenal melalui karya-karyanya dari puisi, cerpen, teater dan novel yang memberi kesan “Gender spiritual” sebagai dasar proses kreatifnya. Disamping sebagai aktivis yang luas jaringannya dan penulis budaya yang kuat dalam basic sejarah. Selain sebagi aktivis teater, Cok juga aktif dalam aktifitas budaya sosial sebagai pendiri Forum Perempuan Mitra Kasih Bali di tahun 1997 dan Kelompok Tulus Ngayah di tahun 1989. Cok tercatat sebagai salah satu penasehat majelis Desa Pekraman di Sidemen, Karangasem, Bali. Novel terbarunya Sutasoma , Janda dari Jirah dan Tantri.

 

PANDE PUTU SETIAWAN. Majalah Reader’ Digest mencatatkannya sebagai salah satu  anak muda ‘Inspirasi Sukses untuk Indonesia’. Aktivis muda kelahiran Ubud  ini adalah pendiri Komunitas Anak Alam sebuah organisasi sosial nirlaba  yang memfokuskan kegiatannya membantu anak – anak Bali kurang mampu di pelosok agar mendapatkan akses terhadap pengetahuan dan pendidikan yang lebih baik. Sejauh ini mengakses lebih dari 3.000 anak – anak di Kaldera Danau Batur dan kini berkembang ke pelosok Bali. Cita – cita terbesarnya adalah menjadi orang biasa saja.

DWITRA J. ARIANA a.k.a. DADAP lahir di Jeruk Mancingan, 1 Juli 1983. Berkesenian dimulai dengan berteater di Sanggar Cipta Budaya SLTP 1 Denpasar dan Teater Angin SMU 1 Denpasar. Sehari-harinya bertani dan beternak di kampungnya  sambil sesekali membuat film bersama Sanggar Siap Selem binaannya. Film-filmnya pernah terpilih sebagai  Nominee Festival Film Indonesia (FFI) 2011, Best Director & Best Documentary  Docdays 2011 FE-UI, Film Terbaik Festival Film Kearifan Budaya Lokal 2011 Kemenbudpar, Film Terbaik Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011, 4 Official Selection Ganesha Film Festival (Ganffest) ITB 2008 Bandung, Surabaya Film Festival (S13FFEST) 2007, Videot (Festival Video Indonesia-Belanda) 2008, Nominee Festival Film Dokumenter (FFD) Jogjakarta 2006 .

 

Acep Zamzam Noor  dilahirkan di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987). Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993). Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan daerah dan ibukota. Sejumlah puisinya termuat dalam beberapa antologi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris,Belanda, Jerman,Portugal, Jepang dan Arab.Beberapa kali mendapat Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda, Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Penghargaan dari South East Asian (SEA) Write Award 2005 dari Kerajaan Thailand. Mendapat Anugerah Budaya 2006 dari Gubernur Jawa Barat. Mendapat Anugerah Kebudayaan (Medali Emas) 2007 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. Kumpulan puisinya, Menjadi Penyair Lagi, meraih Khatulistiwa Literary Award 2006-2007.

 

Anggara Mahendra  lahir pada 3 Februari 1987 di Denpasar, besar di Bekasi, dan Semarang. Sejak kecil sudah suka dengan dunia visual, terutama saat SMP dengan meraih penghargaan di bidang lukis membuat pemandangan dengan pensil warna, crayon sampai melukis tokoh-tokoh pewayangan dengan teknik sigar mangsi.  Mulai tertarik merekam cahaya sejak adanya pemikiran “satu detik yang terlewat, nggak akan kembali lagi” . Beberapa pameran foto pernah diikutinya, mulai dari Lomography (kamera plastik),“Zoom in Bali” di Bentara Budaya, “Landscape tanpa Batas” bersama seniman dan Alliance Francaise, pemenang ketiga lomba foto Akademika dan mengikuti pameran foto bersama “Bali Saat Ini” , “The Real Bali” bersama Rotaract Denpasar hingga pameran foto “Bali 2011” di Bali TV yang diadakan oleh Bali Post.

 

Ridwan Rudianto, Lahir di Denpasar, Bali tanggal 6 Agustus 1975. Tahun 2000 menamatkan kursus digital video editing di Toronto, Canada lalu balik ke Indonesia dan menjadi freelance video editor sampai sekarang. Belakangan ini banyak terlibat di visual background team untuk seni pertunjukan seperti drama tari ‘Matah Ati’ di Singapore-Jakarta dan drama monolog ‘Karna’ di Jakarta. Di sela waktu suka membuat video art dan beberapa kali pernah diputar di beberapa event. Karya video art terakhir diputar di acara Bali Creative Festival 2011.

 

I Gede Roby Supriyanto atau sering disebut Robi Navicula adalah seorang musisi (vokalis dan gitaris) band rock asal Bali, Navicula, dan pelaku aktif skena musik di Bali sejak tahun 1996. Dia juga seorang penulis free lance, aktivis lingkungan hidup, pengajar, penerjemah, editor dan konsultan lepas di sejumlah LSM di Bali dan Indonesia, terutama untuk bidang Pertanian Organik (Permaculture) dan Media Masyarakat. Saat ini, bersama sejumlah rekan, dia merintis sebuah media online bernama Akarumput.com, dan menjabat sebagai direkturnya.

 

Paramitha Eka Putri lahir di Denpasar 30 Agustus 1990. Sedang berkutat menulis skripsi untuk gelar S1nya di Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha. Menyukai jurnalistik sejak bergabung di Madyapadma Journalistic Park. Beberapa kali menjuarai kompetisi penulisan cerpen, karya tulis, dan berita jurnalistik. Namun mulai aktif menulis prosa dan puisi saat diwadahi Komunitas Mahima. Cerpen-cerpennya telah dibukukan dan pernah dimuat di harian Bali Post. Baginya, menulis adalah proses menuangkan dialog-dialog rusuh dalam diri yang membantunya untuk tidur lebih nyenyak dari biasanya.

 

PUTU FELISIA Telah menyukai dunia menulis sejak kecil. Suka membaca berbagai jenis buku, dan tidak bisa lepas dari musik dan film. Pernah kuliah di jurusan Sastra Inggris, dan bekerja di sebuah radio swasta sebagai music director, announcer, plus editor info. Perjalanannya di dunia kepenulisan telah menghasilkan beberapa antologi, diantaranya Dua Sisi Susi, antologi Dalam Kasih Ibu, dan Dear Love. Sementara novel solonya berjudul ShadowLight (Gradien Mediatama), dan My Lovely Gangster (Media Pressindo).Sampai sekarang masih mengaku sebagai bukan penulis. Kalau mau menghubunginya bisa ke twitter @putufelisia atau blognya scarlettfeishome.blogspot.com.

 

Aya Lancaster (23 th) tinggal di Jakarta. Sejak kecil gemar membaca cerita yang kompleks, yang membawanya berkenalan dengan novel fantasi dan berbagai jenis cerita yang meliputi supernatural, thriller, suspense dan sebagainya. Lingkup bacaan ini akhirnya membuahkan sebuah ide yang kemudian dituangkannya ke dalam sebuah novel fantasi supernatural berbahasa Inggris karya pertamanya tahun 2011 Trilogi: Chronicle of The Fallen: Rebellion. AuthorHouse-UK Aya juga mendirikan Aya Lancaster Foundation dengan motto “Share whatever we can, because no matter how small, it might change the world.”

 

gdubrak

awas licin, banyak ide mengalir

More Posts

baca artikel lainnya:

[Diskusi] Animasi Bali : Tantangan dan Peluang
Lomba-Lomba HUT Antropologi Udayana
Sunrise Bikini 'Sanur Beach'
Mei, Mai ke Bali Emerging Writers Festival 2012
starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak