//
you're reading...

review

DISKO: Pasukan Garis Depan yang Jelita

Inilah pertunjukkan Teater Garasi

“Haruslah lengkap dari atas sampai bawah..
barulah kami siap dipajang di garis depan..
di antara gerai – gerai baju..”

Ada banyak hal kecil di sekeliling kita yang seringkali terabaikan. Sekalipun hal itu kerap kita jumpai, namun jarang kita pedulikan. Teater Garasi, di bawah arahan sutradara Erythrina Baskoro, mencoba mengangkat cerita sederhana dari para prmuniaga atau yang lebih dikenal dengan Sales Promotion Girl (SPG) ke dalam sebuah pertunjukan teater dokumenter.

Selama dua hari, 27 – 28 Maret 2012, auditorium Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta berubah menjadi salah satu sisi pusat perbelanjaan dengan perempuan – perempuan muda berseragam, manequine dengan pakaian – pakaian terbaru serta banner diskon yang mentereng di setiap sudutnya.

Pertunjukkan ini dibuka oleh 4 pramuniaga yang tengah sibuk sebelum toko buka, kemudian menyapa penonton yang datang, mengucapkan selamat pagi dengan ramah, membantu mencarikan ukuran sepatu dan tak lupa menawarkan diskon spesial yang berlaku satu hari saja.

Selama kurang lebih 1 jam, para penonton diajak masuk ke dalam dunia lain di balik gerai – gerai baju yang mewah di pusat perbelanjaan. Mulai dari bagaimana para pramuniaga harus sempurna menata diri semenarik mungkin dari ujung rambut sampai ujung kaki, padahal tak pernah nyaman dengan sepatu hak tinggi atau rok mini 10 cm di atas lutut.

Kemudian dengan gaya centilnya mereka memperagakan tipe – tipe pembeli yang sering mereka jumpai, ada yang sungguh – sungguh mencari barang, sekedar pilih – pilih atau yang suka mencari – cari alasan hanya untuk melihat – lihat harga saja.

Berdiri selama 8 jam dengan hak tinggi, tak boleh duduk, menahan haus dan lapar dan tak bisa permisi ke toilet. Tak banyak yang tahu bahwa para pramuniaga yang selalu tampil cantik itu harus siap – siap berhenti bekerja saat hamil, atau tak bisa menolak untuk dipindahtugaskan ke luar daerah padahal itu hanya siasat untuk memecat mereka karena usianya sudah lebih dari 30 tahun.

Juga harus siap – siap membayar 80% dari harga baju yang berhasil dicuri oleh para pencuri yang berkedok pembeli. Belum lagi jika harus menghadapi customers yang galak dan tak suka menunggu. Jika diibaratkan, mungkin merekalah manequine toko yang sebenarnya. Harus selalu tampil sempurna, cantik, ramah, kuat fisik dan mental.

Empat pemain utama, yakni Erythrina Baskoro, Nunung Deni Pispitasari, Siti Fauziah dan Verry Handayani masing – masing memainkan peran dengan karakter yang berbeda. Pramuniaga senior dengan dua anak, pramuniaga senior yang sebentar lagi harus keluar karena kehamilannya yang kedua, pramuniaga yang menginjak usia 30 tahun dan pramuniaga junior yang setiap saat harus bersedia menerima perlakuan tidak adil para senior.

Selain itu ada pula pemain tambahan, seperti customer galak yang diperankan oleh Naomi Srikandi dan pramuniaga magang yang diperankan oleh 5 gadis muda. Sesuai dengan tajuknya sebagai teater dokumenter, naskah pertunjukan DISKO merupakan hasil riset, wawancara dan penelitian dari para pramuniaga.

Pertunjukkan ini dibuka dengan suasana riang melalui nyanyian dan tarian yang mengalir bersama dialog, diselingi aksi – aksi kecil yang kocak namun berakhir dengan sedikit muram. Melalui dialog – dialognya yang sederhana, DISKO mencoba mengajak para peonton untuk melihat sekilas pada hal – hal sederhana yang sebenarnya menyimpan banyak cerita. Dengan itu, kita akan menjadi lebih peka pada hal – hal kecil di sekitar kita.

Naskah dan foto oleh Ayu Diah Cempaka, mahasiswi Sastra Prancis, UGM

Ayu Cempaka

tudent of French Literature UGM • Balinese • Jogjakarta citizen • wonderland's member • fairytale believer

More Posts - Website

baca artikel lainnya:

Pizza Party, Ungkapan Syukur dalam Harmoni
GRADASI In Action Rock \m/
Oleh-oleh Hari Kemerdekaan
Bali Emerging Writers Festival 2013 yang Amazing!
starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak