//
you're reading...

perspective

Kenapa Anak Muda Tidak Boleh Anti Politik

gambar latar diambil dari sini

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta menyita perhatian kita. Perdebatan siapa yang paling berhak memimpin Jakarta terus bergema. Tak hanya di layar kaca tetapi juga di linimasa. Semua pendukung saling klaim, calon yang mereka usung yang paling baik.

Dinamika ini menyadarkan kita, anak muda, politik itu tidak bisa kita hindari. Banyak anak muda anti politik. Tentu saja kami sadari. Politik acap diidentikkan sebagai ajang untuk saling sikut, koruptif dan penuh kecurangan. Bahkan muncul ungkapan, “Dalam politik tidak ada teman yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang abadi.” Istilah ini untuk menggambarkan betapa panas dan kejamnya dunia politik.

Bisa jadi inilah yang menyebabkan kenapa anak muda alergi jika membahas hal yang berbau politk, ya semacam antipolitik. Politik diidentikkan dengan partai yang setiap hari mendominasi pemberitaan dengan berita yang nyaris terus berulang: korupsi. Akibatnya, politik menjadi identik dengan sesuatu yang kotor, licik dan hipokrit.

Tetapi, tahukah kita, bahwa politik sebenarnya tidak sesederhana itu. Politik memiliki banyak aspek. Politik juga tidak harus masuk ke partai politik. Berada di luar partai politik, misalnya dengan mendirikan lembaga swadaya.  Tetapi satu hal yang kita, sebagai anak muda, lupakan adalah segala sesuatu di sekitar kehidupan kita pasti akan menyangkut ke bidang politik. Nah, Gdubrak.com akan memaparkan kenapa kita tidak boleh alergi dengan politik.

 

1. Semua Berujung ke Kebijakan Pemerintah

Pernahkah kita mengeluh biaya pendidikan mahal? Atau mengeluhkan kemacetan di Denpasar tak kunjung selesai. Nah, kenapa semua ini bisa terjadi? Tentu saja karena kebijakan pemerintah yang tak berpihak pada kita. Kalau kita apatis dan nggak peduli, apakah pendidikan akan bisa murah? Tentu saja tidak.

Biaya pendidikan mahal karena amanah konstitusi untuk menyisihkan 20 persen anggaran negara dan anggaran daerah tidak dipenuhi oleh semua daerah. Pernahkan kalian memperhatikan, berapa persen anggaran di kabupaten kalian yang digunakan untuk pendidikan?

Bandingkan dengan angka berapa persen yang digunakan untuk perjalanan dinas atau menggaji pegawai negeri? Ingat, konstitusi kita mengamanatkan anggaran 20 persen. Kalau sudah dianggarkan, awasi penggunaannya agar tidak dikorupsi. Caranya bagaimana? Nanti kita terangkan di akhir.

Atau kalian kerap mengeluh karena terjebak macet? Secara sederhana, penyebab kemacetan adalah karena pertumbuhan kendaraan tidak sebanding dengan pertumbuhan jalan setiap tahun. Pernahkah kita berpikir, kemacetan ini karena pemerintah nggak menjalankan tugasnya dengan baik. Kendaraan pribadi dibiarkan tumbuh tetapi angkutan umum tidak diperbaiki.

Pemerintah abai dengan kepentingan umum. Abai dengan fasilitas publik. Tugas pemerintah bukan untuk mencari keuntungan dengan mengabaikan kenyamanan warga negara. Ingat, kita hidup di Indonesia tidak gratis, ada pajak ini itu yang harus kita setorkan.

Jadi, kalau anak mudanya anti politik, tidak akan ada perubahan dalam kehidupan bermasyarakat. Ingat, generasi yang memegang kendali pemerintahan sudah gagal melakukan perubahan sosial. Siapa lagi kalau bukan kita? *ikat kepala, kepal tangan!*

 

2. Menyangkut Nasib Orang Banyak

Kalian berobat ke rumah sakit dan ternyata biayanya mahal. Wah, padahal negara berkewajiban untuk melindungi warga negara. Salah satu caranya ya memberikan fasilitas yang terjangkau. Pernahkan kalian mendengar ada pasien yang diusir dari rumah sakit karena tidak mampu bayar? Nah, ini seharusnya tugas negara untuk melayani kepentingan kita. Sekali lagi: kita hidup di Indonesia tidak gratis.

Oia terkait dengan nasib orang banyak, ada banyak aspek yang seharusnya dilakukan pemerintah. Misalnya dalam pemberian subsidi pendidikan seperti yang kami bilang di awal, pemberian bantuan untuk petani, pelestarian budaya atau perbaikan jalan raya dan sarana transportasi publik. Kalau kita anti politik atau bersikap masa bodoh terhadap fakta-fakta ini, berarti kita mendukung negara kita tidak maju-maju.

Atau kasus lain deh misalnya. Kalian punya punya banyak rencana kreatif tetapi bingung dengan anggaran? Padahal kita bisa melihat banyak anggaran negara dibelanjakan untuk kegiatan nggak mutu dan terkesan asal jalan. Tanya deh PNS-PNS idealis yang masih ada di instansi pemerintah, berapa banyak proyek pemerintah dikerjakan biar “asal jalan” dan “anggaran terserap”.

Nah, jika kita cuek dengan politik, yang kayak begini akan terus berjalan. Tetapi kalau kita kritis, uang tersebut seharusnya bisa digunakan untuk kegiatan kreatif. Entah perlombaan, pentas seni, pentas budaya atau segudang acara lain yang lebih berguna ketimbang seremonial ala pejabat. Artinya, dengan kalian menjadi lebih awas dan kritis, politik penganggaran tidak bisa dilakukan main-main. Celah untuk dikorupsi juga dipersempit.

Udah mengerti kan dengan contoh di atas?

 

3.  Menghentikan Feodalisme

Kami percaya banyak anak muda yang pintar di negeri ini. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak pernah mendapatkan tempat dan posisi yang layak untuk mengendalikan kebijakan. Penyebabnya apa? Karena sistem politik masih mewarisi sistem feodal.

Apa itu sistem feodal? Sistem feodal misalnya, memberikan kemudahan kepada sanak keluarga untuk meneruskan tahta. Kami tidak menghalangi keluarga bupati, gubernur atau anggota DPRD untuk bersaing dalam bidang politik. Tetapi yang kami sesali, cara-cara mereka untuk memperoleh kekuasaan dilakukan dengan cara-cara yang tidak fair. Persis cara-cara Orde Baru.

Lalu hubungannya apa dengan tidak boleh anti politik? Tentu saja untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang lebih memiliki kemampuan. Artinya kita akan menerapkan sistem meritokrasi. Penghargaan berdasarkan prestasi. Tidak berdasarkan kedekatan karena pertalian darah. Sistem yang seperti tentu akan menghasilkan sistem demokrasi yang lebih jujur dan adil.

 

4. Menghentikan korupsi

Ya, betul. Korupsi adalah penyakit bangsa. Dari kelas menengah bawah level kepala desa ampe pejabat negara. Dengan melek politik, mengawasi anggaran, peduli dengan kegiatan pemerintahan dan kebijakan yang dilakukan pemegang kekuasaan, kita akan berpartisipasi aktif untuk mengawasi. Kalau kita tidak berada di dalam sistem, ya minimal kita mengawasi dan mengkritisi dari luar.

Menghapus korupsi memang bukan pekerjaan mudah. Ini sudah mendarah daging tanpa kita sadari. Bahkan kita cenderung permisif terhadap fenomena ini. Tetapi kalau anak muda yang cerdas, kritis dan bersih diberikan ruang lebih banyak, bukan mustahil korupsi akan bisa diberantas. Itulah alasan lain kenapa kita tidak boleh menjauh dari politik.

Lalu bagaimana caranya agar tidak anti politik dan bisa bikin perubahan sosial?

Pilihannya ada dua. Pertama masuk ke dalam sistem. Atau kedua, tetap konsisten kritis berada di luar sistem

Pilihan pertama ya kita harus masuk ke partai politik. Kenapa harus masuk partai politik? Karena ini menjadi salah satu cara untuk masuk ke dalam kekuasaan dan menjadi pemegang kebijakan. Dengan masuk ke partai politik, kita memiliki kesempatan menjadi legislatif (DPRD/DPR) atau eksekutif (Bupati/Gubernur/Presiden). Tinggal dipilih mau mengubah sistem lewat apa? Oia, menjadi gubernur atau bupati juga bisa lewat calon independen. Tinggal pilih saja lewat jalur mana.

Tetapi yang mesti diingat juga, masuk ke partai politik jangan sendirian. Tahu kan di partai politik banyak orang tua yang tetap haus kekuasaan. Agar tidak terjebak dalam sistem atau terseret pusaran arus, masuknya ramai-ramai. Yang cerdas-cerdas masuk barengan agar bisa saling mengingatkan dan mengoreksi. Pilihan ini memang tidak mudah. Tetapi kenapa tidak dicoba?

Pilihan kedua tentu saja mengawasi kebijakan. Masuk ke lembaga swadaya masyarakat atau bikin organisasi sendiri yang kritis terhadap pemerintahan. Bukankah banyak organisasi non pemerintah yang berpengaruh dan bisa menarik simpati publik? Kita bisa menempuh cara ini.

Begitulah, kita boleh anti partai politik tetapi tidak boleh anti politik. Karena itu menyangkut hajat hidup orang banyak? Apakah gambaran kami bisa dimengerti? :D *kalau belum baca sekali lagi yah, begitu seterusnya sampai benar-benar mengerti. Kalau ga ngerti juga bisa hubungi dokter deh minta jodoh :| *

gdubrak

awas licin, banyak ide mengalir

More Posts

baca artikel lainnya:

Merayakan Kelulusan
Antipluralisme dan Sinisme Rocket Rockers di Bali
  • Lagi Manciracau

    Menurut saya pribadi boleh sih berpolitik, tapi sebaiknya lebih fokus kepada belajar dulu. Karena kebanyakan terjadi banyak anak muda terutama para mahasiswa yg sibuk berpolitik tetapi bermasalah pada studinya. Apakah itu memang disengaja atau ditunggangi para pelaku politik/politikus tertentu untuk kepentingan pribadi mereka. Sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan studi mereka secara tepat waktu yang merugikan diri mereka sendiri dan orang tua..

    Alangkah lebih bagus mereka fokus dulu terhadap disiplin ilmu mereka, seperti menjadi ahli hukum atau ekonom, sehingga nanti apabila mereka terjun kedunia politik, persiapan mereka lebih mantap untuk mengkritisi dan bertindak terhadap kondisi carut marut di negeri ini. Terserah, apakah mereka itu bergerak sebagai sebagai oposisi atau terjun kedalam sistim seperti yg telah bung jelasin diatas..

    Wallahualam..

starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak