//
you're reading...

talent

Ketika Frischa Menjadi Pemuja Rahasia

Talent Gdubrak.com kali ini kayaknya sudah nggak asing lagi dengan publik kesenian Bali. Hayoo, tebak siapa? Yes, dia adalah Ni Made Frischa Aswarini. Frischa pernah menjadi juara beberapa lomba penulisan puisi se-Bali dan nasional. Hebatnya lagi, dia juga sempat baca puisi di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2007.

Selain itu, Frischa pernah menjadi pembaca puisi terbaik pada Poetry Slam Utan Kayu International Literary Biennale 2009. Sejumlah puisinya dimuat di media massa seperti Pikiran Rakyat, Bali Post, Kompas, Koran Tempo, dan Jurnal Sundih. Eh, Frischa juga kerap menulis esai. Tulisannya pernah dimuat di Jurnal Akar, Radar Bali, dan Bali Post.

meramaikan BEWF2012

Itu baru prestasi di bidang kesenian. Di bidang akademis, pemilik akun @frischa_swarini ini pernah menjadi Juara I Lomba Menulis Artikel Olimpiade APBN se-Bali, Departemen Keuangan 2008. Tahun 2011, esainya masuk dalam 25 esai terbaik se-Indonesia dalam kompetisi “Menyembuhkan Luka Sejarah” diselenggarakan oleh Koran Tempo dan Majalah Historia. Prestasi akademis yakni meraih Juara III Lomba Mahasiswa Berprestasi Universitas Udayana (2011), mewakili Bali mengikuti “Arung Sejarah Bahari V” diselenggarakan oleh Direktorat Geografi Sejarah, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia (2010)

Beberapa puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis dan dimuat dalam antologi para penyair Bali bertajuk “Couleur Femme” Alliance Francaise (2011). Salah satu penulis dalam buku “Waktu Tuhan”, biografi kreatif Made Wianta(2008), antologi puisi “Kampung dalam Diri” bersama sejumlah penyair muda di Indonesia (2008); antologi puisi bersama “Pedas Lada Pasir Kuarsa” Temu Penyair Indonesia II(2009) dan antologi cerpen bersama “Topeng Nengsih” Balai Pusat Bahasa Denpasar(2008).

Saat ini, bersama Komunitas Sahaja, aktif menyelenggarakan kegiatan kesenian di Bali. Dengar-dengar Frischa juga lagi jomblo nih. Nah lho? Yuk kita simak penuturan Frischa tentang kesenian, bakat menulis dan psssst… pengalaman menjadi pemuja rahasia.

Kamu kan dikenal sebagai seorang penulis muda berbakat, Gimana awalnya sukan menulis?

Pengalaman pertama menulis, khususnya mencipta karya sastra, aku alami sejak Sekolah Dasar. Tentu teman-teman juga pernah dikasih PR atau tugas menulis puisi bukan? Namun sayangnya, kita nggak diajak untuk menyelaminya lebih dalam, hanya selintas dan biasanya tak menjadi pengalaman kreatif yang membekas.

Dorongan menulis karya sastra justru aku temukan ketika mengikuti ekstrakurikuler teater dan jurnalistik di SMP. Aku bertemu dengan teman-teman yang punya bakat luar biasa saat itu. Bergaul dengan mereka, secara langsung dan tidak, membuat aku ingin ikutan menulis. Mereka sarat prestasi di bidang sastra, jurnalistik dan teater, aku sendiri masih sekadar pengembira, tapi aku ingin mencoba.

Memasuki masa SMA, aku lebih disibukkan dengan aktivitas belajar. Kira-kira waktu kelas 2 SMA, aku bertemu lagi dengan teman-teman lama di ekstrakurikuler teater dan jurnalistik SMP. Mereka rupanya sudah membentuk kelompok kreatif yang kini bernama Komunitas Sahaja. Aku bergabung, dan di sanalah aku menemukan alasan untuk lanjut menulis dan membaca sastra.

Kamu suka menulis apa saja?

Aku pernah mencoba menulis ketiganya, termasuk juga esai dan karya jurnalistik lainnya. Selama proses tersebut, aku merasa bahwa pengalaman menuntaskan sebuah puisi memunculkan ‘kebahagiaan’ yang sangat unik dibandingkan menyelesaikan karya-karya genre lain. Tentu setiap orang punya selera dan kecenderungan yang berbeda. Bagi aku pribadi, menulis puisi bukan hanya soal berkreasi, melainkan juga proses menjernihkan diri, mengolah rasa dan empati.

Bisa ceritakan gimana proses kreatifmu?

Dalam mencipta karya apapun, kita memerlukan ilham dan momentum. Ilham atau inspirasi ga selalu datang mengetuk pintu rumahku, kadang aku mesti mencari-carinya kemana-mana.. Tapi syukurnya aku nggak pernah dapat alamat palsu.. hahaha… :p

Biasanya aku menelusuri inspirasi dengan cara menonton film, berkunjung ke tempat-tempat tertentu, mendengar musik atau membaca. Momentum yang aku maksud adalah saat yang tepat dan kondusif untuk berkarya. Aku dengan sadar memilih waktu malam atau dini hari ketika sedang sendiri di suatu tempat. Namun, kerap juga hal itu tak terencana, misalnya ketika di perjalanan atau di kelas, aku ketik aja benih-benih puisi itu di HP agar momentum itu nggak lewat.

Puisi, bagi aku, tidak mesti menyuguhkan informasi atau pengetahuan kepada pembaca, tetapi yang lebih esensial adalah bagaimana menawarkan kemungkinan baru dalam merasakan bahasa, memandang suatu peristiwa atau suasana, yang seluruhnya tak terlepas dari pengalaman batin sang penyair. Maka kekayaan pengalaman batin menjadi penting untuk dikejar. Cara mengumpulkannya sama seperti cara menggali ilham tadi.

Seluruhnya kemudian ditumpahkan lewat kata-kata. Aku membiarkannya membasahi kertasku atau muncul sekenanya di layar laptop. Mungkin sama seperti seseorang yang sedang trance atau kalo di Bali disebut “kerauhan”, di mana tubuh manusia hanya menjadi wahana dari suatu energi yang ingin keluar. Begitu juga ketika menulis sajak, aku mempersilakan alam bawah sadar (subconscious mind) dengan berbagai endapan pengalaman batin yang terkumpul di dalamnya, untuk bekerja menghasilkan benih-benih puisi yang tak terduga.

Setelah kata-kata itu berserakan di kertas atau microsoft word, tiba waktunya untuk proses editing. Pada saat ini, aku memilih dan merapikan kata, memasukkan gagasan (dengan conscious mind) dan membangunnya menjadi suatu karya yang utuh.

Nah, mulai dari proses peluapan bawah sadar hingga konstruksi dengan pikiran sadar tadi, merupakan ritual yang bisa melegakan perasaan dan menyehatkan lho.. Ini yang sebelumnya aku sebut sebagai proses menjernihkan diri. Mengapa? Sebab dengan menulis, kita telah menciptakan kanal bagi emosi-emosi dan perasaan-perasaan yang berdesakan dan kadang sampai mampet dalam diri kita. Maka tak heran banyak orang patah hati menulis puisi kan…hehe ?

Punya tokoh idola?

Aku sering bingung kalau ditanya soal ini, sebab ada banyak sekali orang yang menginspirasi, termasuk sahabat-sahabatku.

Katanya pernah baca puisi depan Presiden SBY. Ceritain dong…

Saat itu aku kelas 2 SMA. Awalnya aku ikut lomba menulis puisi dan masuk dalam tiga besar karya terbaik. Kami kemudian diseleksi lagi untuk bisa presentasi di depan presiden. Pada Hari H, dengan perasaan dag dig dug, aku melakukan presentasi dan membacakan sebuah puisi yang aku ikutsertakan dalam lomba. Awalnya aku khawatir betul tidak bisa menampilkan pementasan yang baik, mengingat waktu SMP dulu aku tak pernah satu kali pun juara membaca puisi. Tetapi Bapak dan Ibu Negara menyimak dengan khidmat, itu cukup membesarkan hatiku, dan momen tersebut sungguh menumbuhkan kepercayaan diri.

pernah baca puisi didepan pak Presiden lhoo

Puisi sekarang identik dengan galau. Apa kamu juga seperti itu?

Tentu saja, justru kebanyakan orang menulis puisi saat galau, baik karena tak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang hidup (hehe…), tersentuh oleh suatu fenomena atau peristiwa sederhana yang membekas di hati, serta termasuk juga waktu jatuh dan putus cinta. Mengenai waktu terbaik, sudah aku sampaikan tadi.

Kamu seneng nggak jika ada cowok yang bacain puisi buat kamu?

Ya, aku senang dan merasa tersanjung jika ada laki-laki yang dengan tulus membacakan puisi untukku. Soal cowok idaman, dia tak mesti bergelut di dunia sastra. Yang lebih indah justru kalau sastra atau “puisi” itu bukan melulu ditulis atau dijadikan suatu pertunjukan, tetapi hidup dan rekah di dalam dirinya.

Punya kriteria cowok idaman?

Ya laki-laki yang tulus, cukup memahami duniaku, mensupport masa depan yang sedang coba kubangun, dan mau diajak keliling dunia naik balon udara.. haha ^_^

Sering dipuja banyak orang?

Aku orangnya agak pelupa, mungkin memang pernah ada, mungkin juga tidak. Namun yang pasti, aku senang jika kehadiranku dan terutama karya-karyaku bermakna buat orang lain.

Kalau jadi pemuja rahasia?

Ya, aku pernah, dan seperti kebanyakan orang-orang, aku akan mencari informasi sebanyak mungkin tentang dia, baik di internet dan yaa.. di mana saja. Ada kesenangan tersendiri ketika melakukan itu bukan? Hehe.. Tetapi tetap harus terukur agar kita tidak terlampau hanyut, menghabiskan waktu karena aktivitas tersebut, dan yang paling penting: selalu sediakan ruang dalam diri kita untuk kritis kepadanya. Lebih baik lagi jika ternyata kekaguman itu bisa memacu kita untuk berbuat baik seperti yang ia lakukan, atau menginspirasi kita untuk berkarya.

Seorang pemuja rahasia sering mengungkapkan perasaanya secara diam-diam. Kamu setuju?

Menurutku itu pilihan, dan hak setiap orang. Terkadang perasaan seperti itu lebih indah jika tidak diutarakan secara eksplisit. Aku pernah mengagumi seseorang, dan tak pernah mengatakan secara langsung padanya, tetapi kutuangkan endapan perasaan itu dengan puisi yang sampai sekarang belum kutuntaskan. Ya, mungkin karena perasaanku padanya juga belum tuntas. Haha. Dan aku mensyukuri perasaan rahasia itu sebagai karunia untuk mencipta.

Pesan kamu buat orang yang nggak jujur mengungkapkan isi hatinya?

Berlaku alami saja. Seperti salah satu kalimat zen yang kerap dikutip sahabatku: biarlah bunga bersemi pada musimnya, buah tumbuh pada waktunya.

ada yang mau belajar puisi? silakan hubungi langsung ;)

Nama : Ni Made Frischa Aswarini
Nama Panggilan: Frischa
Pendidikan: masih menempuh studi di Jurusan Sejarah Universitas Udayana
Akun twitter : @frischa_swarini
Hobi: nonton film, naik sepeda

gdubrak

awas licin, banyak ide mengalir

More Posts

baca artikel lainnya:

Si Cantik Penyuka Pantai Mertasari
Nggak Usah Malu Nyanyi Bali
Martin Dano: Foto Sama Pacar Saja Masih Editan
Harapan Kami untuk Presiden Nanti
  • Putri Puspitaningrum

    Kak Frischa hebat sekali :) menginspirasi … :) Sukses selalu ya kak, semoga aku juga sukses #lho?

  • ray

    ^
    ^ 4 thumbs up
    & maju terus sang inspirator muda

  • http://cahya.legawa.com Cahya

    Kalau membaca kisah @frischa_swarini ini, jadi ingat ketika saya menggenggam tropi saat lomba bengkel sastra dulu. Rasanya gimana gitu. Semoga di Bali selalu lahir generasi baru yang menyukai sastra.

starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak