//
you're reading...

review

Malam Minggu Bersama si Cantik Happy Salma

Happy Salma dan Iwan Dharmawan di Dapur Olah Kreatif

Siapa yang tak kenal Happy Salma? Wajahnya khas perempuan Indonesia. kulitnya sensual, senyumnya manis, perawakannya tinggi, ramping dan anggun. (#ini serius, coba saja klik www.happy-salma.net). Artis cantik asli Sukabumi ini, sempat menjadi sorotan media karena menikah dengan seorang putra raja di Ubud, Gianyar. Selain main di beberapa sinetron dan film, ternyata Happy pernah menjadi seorang guru TK dan pemain Band. Banyak kejutan yang tim gdubrak.com dapatkan saat mengikuti acara oleh DOK Bali.

Warung Tresni yang bertempat di Jalan Drupadi 54 Renon Denpasar malam minggu kemarin dipenuhi oleh penikmat sastra lintas generasi. Ada pelajar SMP, SMA, mahasiswa, guru, wartawan, sastrawan legendaris, musisi dan insan kreatif lain. Happy Salma mampu menarik banyak insan untuk menghabiskan malam minggu bersamanya.

Mungkin diantara kita masih mengenal sosok Happy, kini bergelar Jero Happy Salma Wanasari, sebagai sosok aktris televisi. Namun sepak terjangnya di dunia sastra sudah bukan menjadi hal baru lagi. Selain membawakan beberapa karya sastra besar sastrawan Indonesia, Happy menjajal panggung teater. Pada 2007 ia terlibat memerankan dan mempublikasikan teater Nyai Ontosoroh yaitu Adaptasi dari Buku Bumi Manusia karya PramoedyaAnanta Toer di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pada 2009 ia mementaskan Teater Ronggeng Dukuh Paruk yang diadaptasi dari “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari di Amsterdam, Bern Swiss dan Taman Ismail Marzuki. Pada 2011 ia melakoni monologue “INGGIT” Inggit Garnasih di STSI Bandung yang dipentaskan juga malam kemarin. Sumpah, nggak nyesel deh datang, penampilannya malam itu sungguh bikin mata tak berkedip, anggun dan berkarisma.

Sebelum bermonolog, acara ini diawali dengan diskusi. Banyak banget peserta yang antusias bertanya. Dengan senyum manisnya Happy menjawab satu persatu pertanyaan. Ia juga bercerita tentang pengalamannya dulu ketika masih kecil ia sangat menyukai pelajaran wajib baca sastra, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana menjadi favoritnya. Kini Happy juga mulai aktif menulis buku, kumpulan cerpen Pulang (2006) dan Telaga Fatamorgana (2008) hingga Novel berjudul Hanya Salju dan Pisau Batu (2010). “Dulu sempat diprotes oleh penerbit, karena karya saya kurang sensasional. disuruh bikin lagi, tapi saya nggak mau. Kemudian karya saya diterbitkan Rieke (Rieke Dyah Pitaloka). Saya sangat mencintai proses saya berkreasi.”

Mendapatkan kenang-kenangan dari Jango Paramartha

Proses menjadi hal penting untuk menentukan kesuksesan yang akan dicapai. Berkali-kali Happy menegaskan ketika berusaha dan mencoba apapun menjaga harga diri menjadi syarat utama. Tak sungkan ia berbagi cerita saat mengikuti casting sinetron ia punya pengalaman pahit. Misalnya pernah dipaksa untuk berlatih melakukan adegan ciuman. Dia menangis dan langsung membatalkan ikut syuting tersebut. “Padahal yang nyuruh saya itu sekarang jadi petinggi lho di negeri ini. Karena takut, ya saya nangis dan batal deh,” ceritanya.

Cerita unik lainnya di awal meniti karir, ia sempat memerankan sebuah tokoh menjadi orang baik-baik. Tapi di beberapa episode kemudian peran ini meninggal dan ia harus jadi kuntilanak. Ya dan kembali, ia sangat menyukai arti dari sebuah proses.

Happy and The next Happy salma

Proses inilah yang menempa dan menjadikan dia kuat. Karena kekuatan nggak mungkin instan turun dari langit. Semua orang besar pasti menerima tempaan dan banyak cobaan. Ketika down, tenangkan diri, berpikir, dan cari solusi. Nikmati kebingungan dan temukan jawabannya. Kekuatan lahir dari pengahayatan dan jangan pernah merasa malu untuk minta maaf pada diri sendiri.

Penampilan memukaunya selama 15 menit mengenakan kebaya hitam dan kain batik memang patut diacungi 4 jempol. Ekspresi dan intonasi sungguh mampu membuat penonton merinding. Ngeri, hidup Indonesia deh pokoknya! Makin cinta sama kebaya nih, (ya iyalah laweng yang make Happy Salma. Apa aja jadi keliahatan cantik, hehehehe).

Di akhir acara ia menyampaikan pesan-pesannya, kepada generasi muda agar mulai suka membaca karya sastra, karena hal itu akan dapat membentuk pribadi yang tangguh, kreatif dan tentu saja berkarakter. “Banyak hal positif yang akan di dapatkan jika kita mencintai sastra,” ungkapnya.

gdubrak

awas licin, banyak ide mengalir

More Posts

baca artikel lainnya:

Kata Nosstress Soal Diri Mereka
Lorem Ipsum Penantian 13 tahun (Review)
Bernyanyi dengan Hati, Selamatkan Bumi #2 Children and Earth
LENGKUNG LANGIT (Album Piringan Hitam)
starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak