//
you're reading...

event

Melayang Bersama Layang Swara

Asyik kayaknya kalau pacaran sambil belajar tentang radio.

Asyik kayaknya kalau pacaran sambil belajar tentang radio.

Minggu, 25 Mei lalu, saya bersama dua adik kelas dari Madyapadma mengikuti workshop di pameran radio antik Layang Swara di Bentara Budaya Bali. Sebagai gadis 17 tahun yang berjiwa uzur, dengan semangat 45 saya mengendarai skuter matik ke Bentara. Kali terakhir saya datang ke sana ketika Langgam Keroncong Bentara #2. Ketika dicek di akun Instagram, ternyata itu sudah 44 minggu yang lalu.

Ditemani segelas kopi dengan dua potong kue, suara merdu Momo vokalis Geisha dan seorang penyiar mampir ke telinga saya. Saya tersenyum sendiri kayak orang bego. Ini surga! Apa sebab? Radio-radio tua produksi 1930-1970an berjejer mengelilingi ruangan. Bentuk-bentuk radionya beragam. Ada yang seperti tempat membawa mayat, seperti alas kertas ujian, kompas, mesin cuci mini, kotak makan, dan segala bentuk yang lain. Ajaibnya, radio-radio ini masih berfungsi! Di tengah ruangan, ada gramofon yang menjadi sumbu workshop ini.

Saya stay cool saja, meski hati sebenarnya agak kalap. Kamera segera saya arahkan ke koleksi radio milik kelompok pecinta audio Yogyakarta, Padmaditya. Ada pula beberapa kolektor radio Magelang, Semarang, dan Yogyakarta. Sempat terbersit ide usil, bagaimana kalau radio ini saya bawa pulang?

Pembicara dalam workshop ini adalah Johannes Alexander Zacharias, Iwan Ganjar Indrawan, dan Didi Wiyanto. Mereka semua tergabung di Padmaditya.Johannes Zacharias menjelaskan perjalanan industri radio dari masa ke masa. Saya, yang bercita-cita menjadi penyiar dan eks penyiar, hanya manggut-manggut. “Gini toh radio sekarang,” gumam saya dalam hati. Radio sudah ditinggalkan penikmatnya. Mereka memilih beralih ke berbagai media lainnya. Kini radio tak yanya berorientasi pada hiburan dan sumber informasi, tetapi juga sebagai pencetak untung.

Beranjak dari ‘kengerian’ itu, Iwan Indrawan mendinginkan kepala saya dengan ceritanya. Iwan berkisah tentang kebahagiaannya memperbaiki radio-radio tua. Baginya, radio adalah saksi perjalanan sejarah.Mereka memiiliki nilai estetika yang berbeda dari benda tua lainnya. Ingin rasanya saya mengajaknya high five di tengah-tengah workshop.

Pembicara terakhir, Didi Wiyanto menjelaskan pekerjaannya sebagai pembuat replika radio. Ternyata usahanya telah merambah ke luar Indonesia. Ketika pameran radio antik Layang Swara ini dibuka, ia mengaku telah mendapatkan satu pesanan untuk mengerjakan sebuah replika radio.

Fakta ini memperlihatka meski tak lagi menjadi favorit, radio tak nihil peminat. Saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya kepada narasumber ini. Daaaaaaaa, hasilnya saya memperoleh buku Layang Swara, katalog tentang dokumentasi sejarah radio Indonesia. Buku yang disusun oleh Hermanu dari Bentara Budaya Yogyakarta ini saya terima dengan senang hati. Bahkan saya berhasil memperoleh tanda tangan dari penyusunnya secara langsung di halaman pertama. It’s a woo-hoo!

Di akhir acara saya sempat berbincang dengan Iwan Indrawan mengenai gramofon. Maklum, saya punya mimpi yang agak absurd yakni suatu hari nanti saya mesti punya sebuah gramofon lengkap dengan koleksi piringan hitam yang antik dan cantik. Untuk pertama kalinya saya mengerti tentang apa itu gramofon, jenis-jenisnya, bagaimana cara kerjanya, perawatannya seperti apa, dan lain sebagainya. Saya berharap dengan perbincangan itu suatu saat nanti saya bisa memiliki gramofon secara nyata. Amin.

Satu kekurangan dari workshop hari itu hanyalah tentang waktu. Hampir molor sejam, sehingga selesainya pun juga molor hampir sejam. Padahal saya punya janji dengan seseorang saat itu. Untungnya dia tidak marah. (catatan editor: mau pacaran ya?)

Mungkin lain waktu kebiasaan jam karet ini mesti dikurangi. Sangat merugikan sekali banget, hahaha. Saya jadi tidak menikmati diskusi yang masih berlangsung setelah jam sudah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit, karena seharusnya acara mulai dari pukul sepuluh pagi sampai satu siang.

Namun terlepas dari kekurangannya, jujur saya merasa beruntung dapat menjadi bagian dari workshop dan pameran radio antik Layang Swara ini. Pameran kedua setelah lima belas tahun lalu pernah diadakan dengan tajuk ‘Sekali di Udara Tetap di Udara’ ini sungguh membuka mata saya bahwa ada satu lagi sejarah yang perlu dilestarikan oleh bangsa ini. Saya jadi berharap banyak anak muda berjiwa tua seperti saya di Indonesia. Biar saya ada teman seumuran yang bersemangat sama, lain kali.

Bagi yang sudah mulai bernafsu untuk menengok pameran ini, tenang saja. Karena Layang Swara akan terus diadakan di Bentara Budaya Bali hingga 2 Juni 2014. Lumayan, masih ada satu malam minggu dan kesempatan bareng sebelum pameran ditutup.

Oktaria Asmarani

Gambar diambil dari Bale Bengong

gdubrak

awas licin, banyak ide mengalir

More Posts

baca artikel lainnya:

GELAR KREATIVITAS DAN SENI (GRADASI) #2
"Tea Time for Change" FBI FM
1nsomania: 24 Jam Penuh Nongkrong di Kedai Kopi Kultur
Janggan!
starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak