//
you're reading...

event

Sabtu Malam Bersama Banda Neira di Suara Awan

konser suara awan

konser suara awan di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta (26/4) bersama Banda Neira, Gardika Gigih, Layur, Trio Cellist

Sabtu, 26 April 2014 beberapa waktu lalu, bersama seorang kawan, saya bermalam mingguan denagn menonton konser Suara Awan di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Penggemar Banda Neira di luar Yogya pasti meringis-ringis iri karena tidak bisa menonton konser kolaborasi bareng Gardika Gigih, Layur, dan trio cellist dari Yogyakarta ini.

Kami adalah segelintir penonton yang beruntung. Konser Suara Awan yang diselenggarakan oleh Forum Musik Tembi (FoMBI) ini menyediakan undangan yang sangat terbatas, sepenghitungan mata saya tidak lebih dari 300 kursi. Dan undangan gratis dan terbatas itu ludes dalam waktu satu hari, saudara-saudara! (Terima kasih untuk Vira, kawan yang menonton bersama saya, yang sudah jauh-jauh ke Tembi Rumah Budaya untuk ambil tiket *sungkem).

Saya ngefans dengan Rara Sekar dan Ananda Badudu. Pertunjukkan kali ini adalah kesempatan kedua menonton mereka manggung. Pertama kali melihat mereka di acaran Komunikasi UGM.

Sayang, kami berdua datang terlambat sehingga tidak bisa menikmati penuh konser Suara Awan. Apa yang menarik dari konser Suara Awan? Kolaborasi Banda Neira dengan Gardika Gigih, Layur dan trio cellist ini sangat harmoni. Saya memang tidak mengerti musik. Tidak tahu tolok ukur menilai musik. Tidak paham partitur. Sejauh dapat membuat kepala dan kaki bergerak-gerak, mengikuti iramanya dan mampu menenggelamkan ke perasaan-perasaan tertentu, dia pantas dimasukan ke kategori musik bagus. Itu pendapat saya.

Di konser kali ini, musik pengiring duet vokal Banda Neira lebih penuh, karena biasanya hanya diiringi oleh petikan gitar dan kali ini ditambah instrumen keyboard, biola dan cello. Beberapa lagu sepertinya diaransemen ulang. Entah oleh Gigih atau Layur. Kita dapat mendengar efek-efek suara pada intro lagu oleh Layur, yang disesuaikan dengan judul lagunya. Seperti suara burung pada lagu Matahari Pagi, suara ombak pada lagu baru Banda Neira, Hal-hal yang Tidak Kita Bicarakan.

Bintang paling terang dalam konser selama 1,5 jam ini memang bukan Banda Neira. Meskipun yang lain hanya pengiring setiap musisi menyumbangkan porsi yang sama untuk tampil. Di beberapa lagu, komposisi vokal dan instrumen memiliki porsi yang sama. Bahkan di sebuah lagu yang saya lupa judulnya, suara Rara Sekar justru menjadi “instrumen” baru. Dia tak menyanyikan lirik lagu, tapi hanya menyelaraskan suaranya dengan alat musik yang lain. Menarik. Sangat tepat dengan suasana panggung terbuka Amphiteater Tembi Rumah Budaya yang dikelilingi sawah dan beratapkan langit malam.

Secara musikal saya sangat menikmati konser Suara Awan. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya melalui kata-kata. Tapi bisa dibayangkan suara Rara Sekar diiringi keyboard, cello dan biola yang harmoni. Syahdu, menenangkan hati, ditambah dengan lirik-lirik lagunya yang puitik.

Tapi menurut saya kedua personil Banda Neira kurang komunikatif dengan penonton. Menurut saya interaksi hangat dengan penonton penting, bahkan sangat penting. Band indie yang paling hangat dan mampu membuat penonton merasa dekat adalah Endah N Rhesa. Tapi tentu saja ini tidak mengurangi kualitas musikal mereka. Saya senang sekali saat Rara Sekar mengumumkan lagu baru mereka, yang merupakan musikalisasi puisi dari puisi Chairil Anwar, Derai-derai Cemara.

Sejak SMP saya suka sekali dengan puisi ini. Tapi ketika musikalisasi puisi Derai-derai Cemara mulai dimainkan, dang! Ada perasaan semacam, “Yah kok begini sih.”. Sebagai fans, saya kecewa. Sebagai fans Chairil Anwar saya lebih kecewa lagi. Mungkin ini rasanya seperti menonton film based on novel tapi hasilnya tidak sesuai harapan pembaca. Padahal saya suka sekali dengan Rindu, musikalisasi puisi dari puisinya Subagio Sastrowardoyo.

Tapi tentunya ini hanya pendapat subyektif, selera tiap orang tentunya berbeda-beda. Saya yakin yang suka dengan lagu ini pasti lebih banyak daripada yang tidak suka. Atau mungkin hanya saya yang tidak suka, hehe. Sebagai fans Banda Neira, fans Gardika Gigih, dan fans bad cellist, konser malam itu sangat mengesankan buat saya. Sebagai penikmat musik awam saya menunggu lebih banyak lagi konser-konser kreatif dari musisi-musisi muda dengan warna yang lebih beragam. Sekian.

Ayu Cempaka

tudent of French Literature UGM • Balinese • Jogjakarta citizen • wonderland's member • fairytale believer

More Posts - Website

baca artikel lainnya:

Rasa dan Karya Happy Salma
Sostro Welang Monologue Awards 2012
Kata Mereka Tentang HTTS
“Hip Hop For Social Change”
starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak