//
you're reading...

chitchat

Testimoni Pengalaman Gempa Aceh

Berkumpul sesudah gempa

Hai teman, sodara,ibu,bapak (kepanjangan yak?)… Ehem ehem.. Saya adalah seorang gadis bernama Raudhatul Mawaddah. Saya tinggal di sebuah kemukiman dekat pantai di Aceh Besar, Aceh. Ngomong-ngomong, melalui tulisan ini saya, eh aku (biar lebih akrab nggak apa-apa ya..) mau ceritain dikit pengalamanku dengan gempa 8,5 SR kemarin.Gempa ini terjadi pada 11 April 2012 di kampung halamanku tercinta dan terpanas ini X-(.

Sebenarnya kemarin, seperti hari-hari lainnya diawali dengan hal-hal lumrah yang dialami dan dilakukan oleh manusia (bangun, mandi). Begitupun aku, mengawali hari dengan ceria menyambut senyum pagi para PNS di sebuah Pengadilan Agama (kebetulan aku lagi magang disitu). Tidak ada sesuatu yang ganjil sampai gempa itu menggoyang seperti diskotek terbuka (goyangan itu lhooo). Aku tidak ingat persis jam berapa gempa itu terjadi. Tapi yang jelas aku bakal share ceritaku ini ke kalian.

Yap, mari kita mulai membahas tentang si oom gempa yang hobi joget itu. Setelah semua kegiatan formal kulakukan, sebagai insan muda berjiwa romantis aku pun berkencan dengan pacarku (uhuy uhuuy). Tidak seperti biasanya, kemarin aku ingin dan memaksa pacarku agar kami pacaran sambil menikmati air tebu (pernahkah kalian meminumnya??). Seraya menunggu air tebu pesananku, kami duduk di kursi yang aku rasa nyaman. Naah begitu sang penjual mengantarkan pesanan, aku dengan cepat menyambar segelas air tebu yang manis dan segar. Jangan ampe ngiler yang bayanginnya. Tapi sayangnya nggak sampe dua menit, aku dikejutkan oleh hentakan yang selanjutnya dilanjutkan dengan “goyang depan belakang” bumi.

Aku terdiam dan memandangi pacarku yang berusaha menenangkanku agar tidak panik. Dari detik ke menit dan bermenit-menit hingga aku melihat semakin banyak orang lalu lalang di depan kami. Kami pun merasa haru pulang menemui keluarga. Dengan mengendarai motor kami pulang sesegera mungkin. Jalan sangat macet dan tidak sedikit yang mengalami kecelakaan karena berebut jalan untuk lari dan menghindar dari tsunami (berdasarkan BMKG).

Rumahku berjarak 14 kilometer dari ibukota provinsi dan sangat dekat dengan pantai (walaupun lebih dekat dengan gunungnya). Hal itu membuatku tidak dapat sampai ke kampungku dengan cepat. Karena aku masih harus bergelut dengan lautan kendaraan yang berebut jalan menuju arah perbukitan. Sekitar satu jam lamanya aku berusaha lepas dari gelombang kendaraan itu. Akhirnya ketika aku sampai dikampung, keadaan kampung sudah sepi dan beberapa warga sedang menaiki kendaraan pick up untuk diangkut menuju bukit di belakang pemukiman kampung kami.

Aku tetap berkendara menuju rumahku. Sesampainya di rumah, terlihat wajah pucat cemas ibuku yang menunggu anak-anaknya pulang. Di depan pintu rumah dia memikul beberapa tas persiapan “kemping” di gunung semalam. Setelah mencoba menghubungi kakak dan adikku (dan tidak dapat tersambung), tetanggaku berhasil membujuk ibuku agar kami segera menuju perbukitan kampung untuk mengantisipasi tsunami.

Segera, kami sampai di daerah sejuk itu. Pemandangan “ramainya pengungsi” membuat bulu kudukku merinding dan sedikit lebih panik. Akibatnya aku sangat mencemaskan keadaan dua saudaraku yang belum sampai dan juga dua hamster yang sudah kuanggap anak angkatku. Dengan berbagai cara dan alasan, aku bisa meyakinkan ibuku untuk pulang memberi makan hamsterku. Aku juga menjemput nenekku di komplek yang lebih jauh.

Setelah itu, bisa kalian tebak kan? Ya, aku kembali ke gunung tadi. Lama menunggu kabar, sepertinya tsunami yang kami takuti itu sepertinya hanya isu belaka (walau isu itu membuat sebagian besar wanita menangis ketakutan ketika kenangan buruk tsunami tahun 2004 lalu terungkit). Akhirnya, aku meyakinkan ibuku untuk kembali ke rumah dengan adik-adik dan nenekku. Kami kembali ke rumah, namun sama sekali tidak berpisah dengan ransel “persiapan lari” jika sesuatu terjadi.

Suasana sepi mencekam dan tanpa listrik. Sambil bersikap siaga, aku pun melirik handphoneku yang dipenuhi pesan masuk dari teman-temanku seluruh dunia. Termasuk di antaranya Kadek Ridoi Rahayu, teman sekaligus saudariku dari Bali. Sangat terharu dengan sikap peduli mereka dan aku bangga memiliki teman seperti mereka. Sampai hari ini, kondisi belum kembali normal. Sampai tadi sore sepulang dari kampus, jalanan masih sepi. Hanya hujan yang meramaikan jalan.

Kami berharap tidak ada lagi tsunami atau bencana alam lain yang terjadi. Mohon doa dari teman-teman semua. Dan mohon maklum jika cerita ini tidak begitu menyentuh atau apalah, karena memang aku sendiri bukan penulis. Hehehe.

Teks dan foto dikirim langsung dari Aceh oleh Raudhatul Mawaddah

gdubrak

awas licin, banyak ide mengalir

More Posts

baca artikel lainnya:

Cara Jitu Deketin Cewek Incaran (Male Version)
Lima Tipe Penonton Konser
Cara Pasti Deketin Cowok Incaran (Female Version)
Lima Jenis Orang yang Harus Dihindari Saat Berkendara
starlight 190x190
ad space

follow @twitgdubrak